I Love You Full Malaysia!

12 Agustus 2011, aku berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda degan menggunakan maskapai penerbangan Air Asia menuju Kuala Lumpur, Malaysia.  Sebuah jam digital di dinding Bandara  menunjukkan pukul 12.30 WIB. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini aku hanya berangkat seorang diri. Konon tahun lalu aku berkunjung ke Malaysia bersama beberapa teman dan muridku.

Penerbangan hari itu memakan waktu kurang lebih 1 jam 45 menit. Di dalam pesawat aku bertemu dengan seorang pria paruh baya yang juga ingin mengunjungi Malaysia.

“ Ini pertama kalinya saya pergi ke Malaysia. Teman saya cuma nyuruh saya ke KL Sentral. Jangankan pergi, nama KL Sentral saja saya tidak pernah dengar. Boleh kan saya ikut kamu? “pinta pria tersebut sambil bergurau.
“Oh, pasti bang. Kebetulan saya mau ke KL Sentral juga. Nanti dari bandara kita ke KL Sentral menggunakan bas. Disitu kita buka puasa dulu, nah setelah itu baru kita coba hubungi teman abang, “ terangku sambil mengisi form kedatangan. Laki- laki itu terlihat semakin tenang sekarang. Aku hanya tersenyum, mengingat kejadian yang sama padaku ketika pertama kalinya ke Malaysia.

Pada pukul 15.15 waktu setempat aku tiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Meski dalam suasana puasa, aku masih tetap semangat demi mencapai target utamaku, yaitu berkunjung ke Singapore. Sementara laki- laki itu terus mengikutiku dari belakang.  Kami berjalan menuju parkiran bas. Tak lama menunggu, bas yang dimaksud telah tiba. Kami bergegas naik ke bus, mengingat masih banyak penumpang lain yang ingin naik ke bus. Tak lama kemudian bus mulai bergerak ke tujuannya. Perjalanannya lumayan lama sehingga aku tertidur.Sekitar pukul 18.00 sore kami tiba di KL Sentral. Maklum saja, kami banyak menghabiskan waktu di bandara karena temanku menunggu barang bawaannya dari bagasi. Mengingat waktu berbuka puasa akan tiba, kami menggalakkan mata untuk mencari rumah makan. Dan waktu itu itu juga, mataku tertuju pada sebuah banner besar bertuliskan KFC.  Segera kami melangkahkan kaki mendekati restoran tersebut. Tak lama kemudian, serune berbunyi, tanda waktu puasa tiba.

Setalah berbuka puasa, temanku meminta untuk menemaninya ke salah satu counter HP untuk membeli kartu SIM (kalau di Indonesia). Pendek cerita, kami berpisah sekitar pukul 22.00 setelah dia menjumpai temannya. Aku langsung ke counter tiket untuk membeli tiket kereta tujuan Woodland, Singapore. Sekitar RM 33 harga tiket malam itu. Sayangnya, aku harus menunggu 2 jam untuk kereta tujuan Johor Bahru. Tetap semangat, demi tujuan utamaku, Singapore.

Perjalanan menuju Singapore dimulai. Konon, tahun lalu aku bersama seorang temanku pernah di tolak dari kantor imigrasi Singapore dengan alasan kami tidak mempunyai uang tunjuk yang cukup. “ I am so sorry. For this time I can’t allow you to get in to Singapore. You have to have at least 500 Singapore Dollar to get in. Thank you!” begitulah kira-kira tegas seorang petugas imigrasi.

Ya, dengan berat hati kami harus kembali lagi ke Johor. “Tapi kali ini aku harus bisa!” Batinku memberontak. Kereta terus berjalan di atas rel yang berlika-liku. Meski kali ini aku punya cukup uang tunjuk untuk di imigrasi nanti, tapi hatiku masih saja resah malam itu. Padahal, salah seorang temanku yang berdomisili di Singapore berjanji akan menjemputku di Johor dan kemudian membawaku keliling Singapore. Tetapi hatiku tetap saja tidak tenang.

Malam semakin larut, penumpang yang duduk di sampingku sudah tertidur lelap. Aku masih gundah gelisah memikirkan nasibku besok. Tampak beberapa laki-laki paruh baya menghisap cerutu di ruang khusus merokok. Kereta terus berjalan tanpa memikirkan keadaan alam malam itu. Sementara aku berusaha menenangkan diri. Kuraih sepasang headset yang terletak di tas ransel milikku. Sembari mendengarkan lagu, aku juga berusaha memejamkan kedua mata, namun tak berhasil. Gemuruh rel kereta api terdengar sangat jelas. Yam au gimana lagi, tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan kecuali hanya mendengarkan beberapa lagu lawas dari ponsel tua pemberian abangku.

Sekitar pukul 5.00 pagi, kereta terlihat berjalan agak lambat. Rupanyan sebuah stasiun telah terlihat di hadapan. Alhamdulillah, akhirnya aku tiba di Johor. Segera kuraih tas ransel hitamku dan segera meninggalkan kereta. “ Hoaaammmmm…,” mulutku menguap. Lelah dan ngantuk bercampur pagi itu. Namun aku harus tetap semangat. Singapore tinggal 1 langkah lagi. “ Kalau nunggu teman, aku harus nunggu disini sampai pukul 10.00,” aku bergumam sambil melihat sekitar. Setelah pikir-pikir, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Singapore seorang diri. Ya, dari pada aku harus menunggu berjam-jam tanpa tujuan yang jelas.Tepat pukul 6.30 aku tiba di kantor imigrasi Singapore. Detak jantung semakin kencang. Padahal angin sekitar berhembus sepoi-sepoi. Tapi aku merasa seolah-olah sedang berada di gunung salju. Tubuh panas-dingin tak menentu. Bismillahirrahmanirrahim…aku berusah menenangkan diri seraya melangkah mendekati petugas yang berseragam biru dongker. Kuberikan Passport kepada salah seorang petugas imigrasi, dan tanpa basa-basi dia berkata, “ go to my office!”. Aku bingung dan bertanya, “why?” Tetapi pria tersebut tidak menjawab. Tak lama kemudian, seorang petugas dengan seragam yang sama menjemputku dan kemudian dibawa ke kantor yang kalau tidak salah berada di lantai 5.

Setelah menjalani beberapa pemeriksaan kecil, akhirnya aku dibolehkan masuk
ke Singapore. “Singapore, I am coming!!!” Jeritku dalam hati. Hari itu aku sangat senang. Walaupun mata sudah sangat mengantuk, tapi aku tidak mau ambil peduli. Kulangkahkan kaki ke sebuah papan informasi untuk melihat-lihat sejenak. Tak lupa kuabadikan beberapa gambar di tempat itu. Setelah mengetahui arah dan tujuan, aku bergegas naik ke sebuah bus tujuan bugis.  Di sana aku menghabiskan waktu sekitar beberapa jam dan kemudian mengunjugi beberapa tempat lain, seperti Sentosa, Marina Bay, dan Suntech. Banyak pengalaman baru yang kudapat hari itu.Matahari sudah condong ke arah barat, pertanda aku harus segera kembali ke Malaysia. Setelah menaiki kereta dan bus, aku akhirnya tiba d Johor. Sesaat aku beristirahat di sebuah mushalla sambil menunaikan shalat jama’ zhuhur dan ashar. Tak lama kemudian, menuju ke terminal Larkin untuk membeli tiket tujuan Kuala Lumpur. Setelah semua selesai, aku langsung masuk ke bus. Sore itu hanya ada 7 penumpang di dalam bus. Jadi aku bisa bebas duduk di mana saja. Kurebahkan badanku di sebuah kursi. Tak lama kemudian, aku langsung tertidur lelap. Sebuah perjalanan yang seru sekaligus melelahkan. Selamat tinggal Singapore.

Keesokan harinya, aku kembali ke Indonesia dengan menggunakan pesawat yang sama. Kira-kira pesawat take off pukul 11.00 waktu setempat. Kini kuucapkan selamat tinggal pada Malaysia…

Malam ini, di atas meja tua dan di sebuah komputer bekas aku menulis semua yang telah kualami guna mengigat kembali kenangan-kenangan indah tersebut. Disini, di My Selangor Story aku ingin maju bersama teman-teman blogger/traveler dari berbagai daerah. Semoga Allah mendengar do’aku.

Advertisements

6 thoughts on “I Love You Full Malaysia!

  1. wah…fotomu di twin tower..mengingatkan poseku juga di twin tower…sejenis ternyata hehehhe……
    Berharap bisa ketemu disana ….
    Good luck;:)
    dan salam kenallll…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s